Dugaan Starlink Masuk Iran, AS Dituding Campur Tangan Kerusuhan

Dugaan Starlink Masuk Iran, AS Dituding Campur Tangan Kerusuhan
FOTO: ilustrasi generate AI.

NUSA AKSARA — Isu dugaan campur tangan Amerika Serikat dalam kerusuhan di Iran kembali memanas. Setelah laporan media internasional menyebut sekitar 6.000 terminal internet satelit Starlink diduga diselundupkan ke negara tersebut saat pemadaman internet besar-besaran terjadi awal tahun ini.

Laporan yang pertama kali diungkap oleh The Wall Street Journal ini memperkuat tudingan pemerintah Iran mengenai adanya dukungan asing di balik gelombang demonstrasi yang berujung kekerasan sejak akhir 2025. Informasi tersebut kemudian turut dikutip sejumlah media internasional dan menjadi perbincangan global.

Operasi pengiriman perangkat internet satelit itu disebut terjadi setelah otoritas Iran memutus akses internet nasional pada Januari lalu, sebagai upaya membatasi komunikasi dan koordinasi massa demonstran.

Nama Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, ikut terseret dalam spekulasi tersebut. Ia disebut mengetahui pengiriman terminal satelit itu, meski belum ada kejelasan apakah ia secara langsung menyetujui operasi tersebut.

Pemerintah AS sendiri secara terbuka membantah terlibat dalam kerusuhan anti-pemerintah di Iran.

Tuduhan Campur Tangan Asing

Sejak awal, pejabat Iran menuding Amerika Serikat dan Israel sebagai aktor di balik instabilitas domestik. Demonstrasi yang bermula pada Desember 2025 sebagai protes damai atas tekanan ekonomi, kemudian berkembang menjadi kerusuhan berskala nasional.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, sebelumnya menyatakan bahwa korban jiwa akibat konflik tersebut mencapai lebih dari 3.000 orang.

“Lebih dari tiga ribu orang tewas dalam peristiwa ini,” ujar Araghchi dalam pernyataan resmi bulan lalu, seraya mengklaim sebagian korban merupakan pihak yang terlibat dalam aksi kekerasan, sementara lainnya adalah warga sipil dan aparat.

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, bahkan menuduh adanya infiltrasi pihak asing di tengah demonstrasi. Ia menyatakan bahwa negara-negara luar telah “menanamkan teroris” untuk memperkeruh situasi.

Pernyataan Trump Picu Spekulasi

Di tengah memuncaknya ketegangan, Donald Trump sempat membuat pernyataan terbuka melalui platform Truth Social yang dinilai memicu reaksi keras dari pemerintah Iran.

“Semua patriot Iran, teruslah berdemonstrasi. Ambil alih institusi kalian jika memungkinkan,” tulis Trump dalam unggahannya saat itu.

Ia juga menyebut bahwa “bantuan sedang dalam perjalanan” dan mengisyaratkan adanya pengerahan kekuatan militer di kawasan, yang kemudian memicu spekulasi luas mengenai potensi intervensi langsung.

Tekanan Lama dan Konflik Baru

Hubungan antara Washington dan Teheran memang telah lama memanas, terutama sejak Trump menarik Amerika Serikat keluar dari kesepakatan nuklir 2015 atau JCPOA pada masa jabatan pertamanya. Langkah tersebut diikuti dengan kebijakan “tekanan maksimum” berupa sanksi ekonomi besar-besaran terhadap Iran.

Pemerintah Iran menyebut tekanan ekonomi yang berlangsung selama puluhan tahun menjadi salah satu faktor utama kemerosotan ekonomi negara tersebut. Saat ini, Iran tercatat sebagai salah satu negara dengan sanksi terbanyak di dunia setelah Rusia.

Meski Washington membantah keterlibatan langsung dalam kerusuhan, dugaan pengiriman perangkat Starlink dipandang sejumlah pihak sebagai bentuk dukungan tidak langsung terhadap arus informasi di tengah pembatasan komunikasi di Iran.

Isu ini pun memperpanjang ketegangan geopolitik di Timur Tengah, sekaligus membuka kembali perdebatan global mengenai batas antara dukungan teknologi, kebebasan informasi, dan intervensi politik lintas negara.

(Fitri Wulandari/CHY)

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index