Pelaku Penembakan Sekolah Kanada Ternyata Buat Game Simulasi di Roblox

Pelaku Penembakan Sekolah Kanada Ternyata Buat Game Simulasi di Roblox
FOTO: ilustrasi generate AI.

NUSA AKSARA – Fakta baru terungkap dalam penyelidikan kasus penembakan massal paling mematikan di British Columbia, Kanada, dalam beberapa dekade terakhir. Tersangka pelaku, Jesse Van Rootselaar, diketahui pernah membuat sebuah video game di platform Roblox yang mensimulasikan aksi penembakan di pusat perbelanjaan sebelum melakukan serangan nyata.

Penemuan ini menjadi bagian dari jejak digital yang kini sedang ditelusuri aparat, sekaligus memicu kembali perdebatan tentang pengaruh konten daring, kesehatan mental, dan pengawasan aktivitas digital remaja.

Game Simulasi Penembakan Ditemukan Usai Tragedi

Video game yang dibuat oleh tersangka memungkinkan pemain mensimulasikan karakter yang membawa senjata dan menembaki orang lain di lingkungan pusat perbelanjaan virtual. Konten tersebut pertama kali ditemukan bukan oleh aparat, melainkan oleh pengguna forum daring Kiwi Farms, sebelum akhirnya menyebar secara terbatas di internet.

Pihak Roblox kemudian mengambil tindakan cepat. Dalam pernyataan resminya, juru bicara perusahaan mengatakan,
“Kami telah menghapus akun pengguna yang terkait dengan insiden mengerikan ini serta konten apa pun yang terkait dengan tersangka.”

Perusahaan mengklaim bahwa game tersebut hanya sempat menerima tujuh kunjungan sebelum akhirnya dihapus dari platform.

Kronologi Serangan Mematikan

Van Rootselaar, 18 tahun, merupakan mantan siswa Sekolah Menengah Tumbler Ridge. Ia dituduh menewaskan sembilan orang dalam peristiwa penembakan pada 10 Februari 2026, termasuk anggota keluarganya sendiri, lima siswa, serta seorang guru. Ia kemudian meninggal dunia akibat luka tembak yang dilakukan sendiri.

Serangan ini disebut sebagai salah satu insiden penembakan paling mematikan yang pernah terjadi di provinsi tersebut dalam beberapa dekade terakhir, dan menjadi peristiwa paling fatal di Kanada sejak École Polytechnique massacre pada 1989.

Jejak Digital dan Aktivitas Daring

Dalam penyelidikan lebih lanjut, aparat menemukan jejak aktivitas daring yang dinilai mengkhawatirkan. Menurut analisis lembaga pemantau ekstremisme, ADL Center on Extremism, tersangka diduga aktif mengakses forum yang menampilkan konten kekerasan ekstrem dan glorifikasi pelaku penembakan massal.

Sebuah akun yang diduga terkait dengan tersangka bahkan sempat meninggalkan komentar yang memuji video dari sudut pandang pelaku penembakan. Selain itu, ia disebut pernah berinteraksi dengan konten kompilasi serangan serupa di internet.

Di platform diskusi Reddit, tersangka juga diduga pernah membagikan unggahan tentang pikiran bunuh diri, perjuangan kesehatan mental, serta pengalaman pribadi lainnya dalam beberapa tahun terakhir.

Riwayat Kesehatan Mental dan Penanganan Polisi

Dalam beberapa unggahan lama, tersangka disebut pernah menulis tentang kondisi kesehatan mentalnya, termasuk perawatan psikiatri dan diagnosis autisme. Ia juga mengaku pernah beberapa kali dirawat di rumah sakit.

Pihak Royal Canadian Mounted Police (RCMP) mengonfirmasi bahwa mereka sebelumnya beberapa kali mengunjungi rumah keluarga tersangka terkait laporan masalah kesehatan mental.

Polisi awalnya menggambarkan pelaku sebagai “orang bersenjata yang mengenakan gaun” dan sempat mengira pelaku adalah seorang perempuan berusia 18 tahun. Namun setelah didesak oleh wartawan, pihak RCMP kemudian mengklarifikasi bahwa Van Rootselaar secara biologis lahir sebagai laki-laki.

Izin Senjata dan Pertanyaan Pengawasan

Penyelidikan juga mengungkap bahwa tersangka pernah memiliki izin kepemilikan senjata api untuk anak di bawah umur yang diketahui telah kedaluwarsa pada 2024. Fakta ini menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana akses terhadap senjata bisa tetap terjadi.

Tragedi ini kini memicu diskusi luas di Kanada terkait pengawasan kepemilikan senjata, kesehatan mental remaja, serta dampak aktivitas digital terhadap perilaku ekstrem.

Pihak berwenang masih terus menelusuri kemungkinan motif di balik serangan tersebut, termasuk keterkaitan antara aktivitas daring, kondisi psikologis, dan tindakan kekerasan yang terjadi.

(Fitri Wulandari/CHY)

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index