Trump Isyaratkan AS Lanjut Serang Iran, Klaim Sudah "Hajar Habis-habisan"

Trump Isyaratkan AS Lanjut Serang Iran, Klaim Sudah
Presiden AS Donald Trump berbicara kepada wartawan di Gedung Putih sebelum berangkat ke acara kampanye di Iowa.

NUSAAKSARA.COM — Presiden Amerika Serikat Donald Trump membuka kemungkinan serangan militer lanjutan terhadap Iran setelah mengklaim Washington telah "menghajar mereka habis-habisan". Pernyataan itu disampaikan Trump kepada wartawan di Gedung Putih sebelum bertolak ke acara kampanye di Iowa. Ancaman baru muncul di tengah laporan bahwa militer AS dan Israel telah menyusun rencana serangan tambahan pascapemilihan paruh waktu.

"Hal ini seharusnya sudah dilakukan sejak lama oleh presiden-presiden sebelumnya - terkait perang dengan Iran - dan kami telah menghajar mereka habis-habisan, dan mungkin kami akan melangkah lebih jauh lagi," ujar Trump, seperti dilansir Anadolu.

Klaim Trump soal Dukungan Publik dan Harga yang Harus Dibayar

Saat ditanya soal reaksi publik terhadap perang tersebut, Trump mengakui adanya sikap terbelah. Menurutnya, sebagian warga mendukung karena ia melakukan hal yang menurut dia seharusnya dilakukan para pendahulunya, sementara sebagian lain tidak menyukainya.

"Ada harga yang harus dibayar, dan saya langsung menyadarinya saat mengambil langkah tersebut. Namun, kita tidak boleh membiarkan Iran memiliki senjata nuklir," kata Trump.

Pernyataan itu mempertegas bahwa isu senjata nuklir Iran tetap menjadi pembenaran utama Washington dalam konflik ini. Trump tidak merinci bentuk "langkah lebih jauh" yang ia maksud.

Rencana Serangan Baru Menunggu Keputusan Trump

The New York Times melaporkan militer AS dan Israel telah menyusun rencana untuk melancarkan serangan baru terhadap Iran setelah pemilihan paruh waktu AS. Belum dapat dipastikan apakah Trump akan menyetujui rencana tersebut.

Laporan itu muncul bersamaan dengan pernyataan Trump pada Rabu yang menyebut Washington tidak sedang bernegosiasi dengan Iran. Ia menyatakan "sesuatu, entah bagaimana caranya," akan terjadi "dalam waktu dekat".

Dua sinyal itu — rencana militer yang sudah disiapkan dan penegasan tidak ada negosiasi — menempatkan eskalasi sebagai jalur yang paling mungkin diambil dalam waktu dekat.

Perang Sejak 28 Februari dan Selat Hormuz yang Tertutup

AS dan Israel melancarkan perang melawan Iran pada 28 Februari. Serangan itu memicu respons Teheran berupa peluncuran rudal dan pesawat nirawak di kawasan, serta penutupan Selat Hormuz.

Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi pasokan energi global. Penutupannya berimplikasi langsung pada arus pengiriman minyak dari kawasan Teluk, termasuk bagi negara-negara pengimpor energi di Asia.

Upaya diplomasi sempat ditempuh. Sebuah nota kesepahaman ditandatangani pada Juni sebagai langkah awal menuju perjanjian damai final. Kesepakatan itu gagal karena berbagai perselisihan, termasuk mengenai hak navigasi di selat tersebut.

Jalan Diplomasi Tertutup, Eskalasi Jadi Pilihan

Gagalnya nota kesepahaman Juni membuat tidak ada kerangka perundingan yang tersisa antara Washington dan Teheran. Trump secara eksplisit menyatakan tidak ada negosiasi yang berjalan saat ini.

Dengan rencana serangan baru yang sudah disusun dan pernyataan presiden AS soal kemungkinan melangkah lebih jauh, arah konflik bergantung pada keputusan politik di Gedung Putih setelah pemilihan paruh waktu. Iran belum memberikan tanggapan atas pernyataan terbaru Trump.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index