NUSAAKSARA.COM — Ekonomi Indonesia diproyeksikan tumbuh 5,3% year on year pada kuartal III-2026 oleh Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga, Prof Rudi Purwono. Proyeksi itu bertumpu pada penguatan investasi, ekspansi manufaktur, dan melesatnya transaksi ekonomi digital. Kredit investasi yang tumbuh 23,4% pada Agustus 2026 disebut sebagai sinyal paling penting bahwa mesin pertumbuhan mulai bergeser dari konsumsi.
Rudi menyampaikan proyeksi tersebut dalam keterangan resmi di Jakarta. Menurut dia, penguatan pembiayaan investasi, aktivitas manufaktur, serta transaksi ekonomi digital menjadi sejumlah indikator yang menopang prospek pertumbuhan ekonomi nasional.
"Dan pada triwulan ketiga ini, saya memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,3 persen (yoy)," ujar Rudi.
Kredit Investasi Tumbuh 23,4%, Lampaui Modal Kerja dan Konsumsi
Mengacu data Bank Indonesia, kredit investasi tumbuh 23,4% year on year pada Agustus 2026. Angka itu jauh di atas kredit modal kerja yang naik 12,3% dan kredit konsumsi yang hanya tumbuh 5%.
Bagi Rudi, komposisi tersebut memberi sinyal bahwa investasi mulai menjadi bagian dari mesin pertumbuhan. Selama ini, pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih banyak ditopang aktivitas konsumsi rumah tangga.
"Ini memberikan informasi kepada kita, bahwa investasi sudah mulai menjadi bagian dari mesin pertumbuhan yang memang selama ini lebih banyak didorong oleh aktivitas dari konsumsi," kata Rudi.
Peningkatan kredit investasi juga mencerminkan penguatan aktivitas pembiayaan dunia usaha dan meningkatnya kebutuhan pendanaan sektor riil. Perkembangan itu dinilai menjadi sinyal positif bagi penguatan kapasitas produksi dan aktivitas ekonomi ke depan.
Ekspektasi Konsumen dan Manufaktur Masih di Zona Ekspansi
Dari sisi permintaan, Indeks Ekspektasi Konsumen selama Juli hingga September 2026 tercatat rata-rata 127,3. Indikator itu menggambarkan keyakinan konsumen terhadap prospek penghasilan, kondisi ekonomi, dan ketersediaan lapangan kerja dalam enam bulan mendatang.
"Dan ini sangat penting bagi kita semuanya terkait dengan adanya indeks ekspektasi konsumen ini, bahwa untuk kinerja ke depan ekonomi Indonesia itu akan lebih baik," ujar Rudi.
Dari sisi produksi, PMI S&P Global tercatat 52,4 pada September 2026. Sementara Prompt Manufacturing Index Bank Indonesia berada di 52,28 pada kuartal III-2026. Keduanya menandakan industri masih berada dalam fase ekspansi.
"Ini menunjukkan perbaikan dibanding bulan sebelumnya, yang artinya bahwa sektor manufaktur mengalami ekspansi, dengan peningkatan tentunya pesanan baru, produksi, dan aktivitas pembelian," kata Rudi.
Transaksi Digital dan Ekspor Jadi Penopang Tambahan
Ekonomi digital bergerak lebih cepat. Volume transaksi pembayaran digital mencapai 6,11 miliar transaksi pada Agustus 2026, tumbuh 40,36% year on year. Transaksi QRIS bahkan melesat 67,22% pada periode yang sama.
Rudi menilai angka itu menandakan semakin luasnya akses digital masyarakat, aktivitas ekonomi, dan penguatan ekosistem digital di Indonesia.
Dari sisi perdagangan, ekspor Indonesia tumbuh 4,55% sepanjang Januari hingga Agustus 2026 dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Peningkatan ekspor dinilai dapat mendorong aktivitas produksi dalam negeri sekaligus memperbesar peluang penyerapan tenaga kerja.
"Ini menunjukkan bahwa produk-produk kita dikaitkan dengan permintaan global ini semakin meningkat, ini kita harapkan dengan peningkatan ekspor tentunya kegiatan produksi dalam negeri semakin meningkat," ujar Rudi.
Pariwisata Tambah Devisa, Sektor Akomodasi hingga UMKM Ikut Terangkat
Kunjungan wisatawan mancanegara meningkat 6,27% year on year pada Agustus 2026. Rudi menilai peningkatan itu dapat mendorong aktivitas akomodasi, transportasi, perdagangan, hingga usaha mikro, kecil, dan menengah.
"Ini menjadi sinyal positif untuk penguatan pariwisata Indonesia ke depan untuk meningkatkan devisa tentunya dan juga untuk berkontribusi dalam mendorong aktivitas ekonomi terutama yang berkaitan dengan penyediaan akomodasi, transportasi, perdagangan, dan UMKM," kata Rudi.
Dengan kombinasi investasi yang menguat, manufaktur yang ekspansif, dan digitalisasi transaksi yang cepat, proyeksi 5,3% tersebut menjadi sinyal bahwa komposisi pertumbuhan ekonomi Indonesia perlahan bergeser. Bagi pelaku usaha, artinya kebutuhan pendanaan ekspansi dan kapasitas produksi akan semakin menentukan daya saing di sisa tahun.