BNPB Minta Warga Siaga Banjir dan Longsor, Tujuh Provinsi Berstatus Hujan Lebat

BNPB Minta Warga Siaga Banjir dan Longsor, Tujuh Provinsi Berstatus Hujan Lebat
BNPB mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi basah.

NUSAAKSARA.COM — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meminta masyarakat dan pemerintah daerah meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi basah. Ancaman banjir, angin kencang, dan tanah longsor masih membayangi sejumlah wilayah akibat potensi cuaca ekstrem. Tujuh provinsi ditetapkan berstatus siaga hujan lebat.

Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton Panjaitan menyatakan kesiapsiagaan diperlukan untuk mengurangi risiko dan dampak bencana. Imbauan itu disampaikan menyusul potensi cuaca ekstrem yang masih mengintai sejumlah wilayah Indonesia.

“Kami mengimbau seluruh masyarakat Indonesia dan pemerintah daerah senantiasa melakukan kesiapsiagaan terhadap bahaya hidrometeorologi basah,” ujar Berton dalam keterangannya, dikutip Sabtu (31/10/2026).

Tujuh Provinsi Berstatus Siaga Hujan Lebat

BNPB menetapkan tujuh provinsi berstatus siaga hujan lebat. Status ini menjadi penanda bahwa wilayah-wilayah tersebut perlu memperketat pemantauan terhadap potensi banjir, angin kencang, dan tanah longsor.

Bencana hidrometeorologi basah merujuk pada bencana yang dipicu faktor cuaca dan curah hujan, seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor, dan angin kencang. Jenis bencana ini paling sering melanda Indonesia, terutama pada periode puncak musim hujan.

Gotong Royong Bersihkan Saluran Air

Untuk mengantisipasi banjir, BNPB meminta masyarakat bergotong royong membersihkan saluran air. Warga juga diminta melakukan susur sungai dengan pendampingan petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

Langkah itu menyasar penyebab banjir yang paling mudah dikendalikan di tingkat permukiman, yakni saluran air tersumbat sampah dan sedimentasi di alur sungai. Pendampingan petugas BPBD diperlukan agar susur sungai berjalan aman, terutama di titik-titik aliran yang berarus deras.

Kenali Jalur Evakuasi dan Siapkan Tas Siaga

Masyarakat juga diminta mengenali jalur evakuasi di lingkungan masing-masing. Pengenalan jalur ini krusial agar warga bisa bergerak cepat ketika banjir atau longsor terjadi, terutama pada malam hari ketika visibilitas terbatas.

Selain itu, BNPB menyarankan warga menyiapkan tas siaga bencana. Tas tersebut berisi kebutuhan dasar untuk persediaan minimal tiga hari, sehingga keluarga bisa bertahan sebelum bantuan datang.

Kesiapsiagaan pemerintah daerah menjadi bagian tak terpisahkan dari imbauan BNPB. Pemda diminta meneruskan peringatan dini ke tingkat kecamatan dan desa, serta memastikan jalur evakuasi dan titik pengungsian dalam kondisi siap pakai.

Bencana Hidrometeorologi Masih Mendominasi

Bencana hidrometeorologi basah secara konsisten mendominasi kejadian bencana nasional setiap tahun. Banjir dan tanah longsor kerap menimbulkan korban jiwa serta kerusakan permukiman dan infrastruktur di wilayah rawan.

Karena itu, imbauan BNPB menekankan pencegahan di tingkat paling bawah: kebersihan saluran air, pemantauan alur sungai, dan kesiapan keluarga menghadapi situasi darurat. Warga yang tinggal di bantaran sungai dan lereng bukit diminta lebih waspada terhadap tanda-tanda awal bahaya.

BNPB belum merinci provinsi mana saja yang masuk status siaga hujan lebat. Pemerintah daerah diminta memantau perkembangan cuaca dari sumber resmi dan mengikuti arahan BPBD setempat.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index