Penyandang Disabilitas Aceh Tamiang Simulasi Tenda Darurat di Tanah Rawan Bencana

Penyandang Disabilitas Aceh Tamiang Simulasi Tenda Darurat di Tanah Rawan Bencana
Puluhan penyandang disabilitas mengikuti simulasi pendirian tenda darurat yang digelar BPBD Aceh Tamiang.

NUSAAKSARA.COM — Puluhan penyandang disabilitas di Aceh Tamiang mengikuti simulasi pendirian tenda darurat yang digelar BPBD setempat. Pelatihan menyasar kelompok yang paling rentan saat banjir bandang dan longsor menerjang permukiman. Salah satu peserta, Erna, pernah terkurung longsor setahun lalu dan harus menyelamatkan diri dengan satu kaki.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Tamiang menggelar simulasi pendirian tenda darurat bagi puluhan penyandang disabilitas yang tergabung dalam Satgas Digdaya. Kegiatan berlangsung di Kampung Pertamina EP Rantau, Aceh Tamiang, di tengah gerimis yang menyelimuti pagi. Peserta dibagi dalam beberapa tim berisi empat orang untuk merangkai tenda darurat dari kondisi terlipat.

Dengan aba-aba hitungan, peserta membentangkan kain, menyusun tiang, lalu menyatukan setiap bagian. Tidak banyak suara terdengar selain instruksi instruktur dan gesekan antartiang. Dalam waktu kurang dari setengah jam, tenda berdiri kokoh.

Kelompok Paling Rentan Saat Bencana Datang

Simulasi menyasar penyandang disabilitas karena kelompok ini menghadapi risiko terbesar ketika banjir bandang dan longsor melanda. Keterbatasan mobilitas membuat proses evakuasi menjadi jauh lebih rumit dibanding warga lain.

Pelatihan menekankan kemandirian. Peserta dilatih mengenali prosedur evakuasi, menyiapkan perlengkapan darurat, dan mendirikan tempat berlindung sementara tanpa bergantung sepenuhnya pada bantuan orang lain.

Pemandangan itu menyimpan makna tersendiri. Di tengah keterbatasan fisik, peserta membuktikan bahwa kemampuan bertahan tidak ditentukan oleh kesempurnaan tubuh.

Kisah Erna: 40 Menit Menembus Lumpur dengan Satu Kaki

Salah satu peserta, Erna, 46 tahun, menyelesaikan simulasi dengan cekatan. Di balik ketenangannya tersimpan pengalaman yang nyaris merenggut nyawa. Kaki kirinya diamputasi akibat kecelakaan ketika berusia 24 tahun, dan sejak itu ia menjalani hidup dengan satu kaki.

Rabu malam, 26 November 2025, sekitar pukul 19.00 WIB, hujan turun deras saat Erna duduk di ruang tamu rumahnya di Dusun Bukit Suling, Kecamatan Rantau. Ia merasa aman karena ruang tamu tidak berbatasan langsung dengan bukit. Bagian rumah yang berdekatan dengan lereng justru ada di kamarnya.

"Awalnya terdengar suara seperti benda berkelinting dari arah luar," kata perempuan berdarah Aceh tersebut.

Erna mencari tahu sumber suara. Dinding kamarnya sudah hancur dihantam longsoran tanah. Bukit di belakang rumah runtuh dan menyeret apa saja yang berada di bawahnya. "Begitu tahu longsor, kami langsung keluar," kenangnya.

Ibunya yang berusia 68 tahun berada di rumah saat itu. Keduanya berusaha menyelamatkan diri. Air sudah setinggi paha orang dewasa, sementara kanan dan kiri jalan tertumpuk tanah bekas longsor.

"Dengan lumpur tebal, saya cari jalan keluar dengan tongkat saya. Ibu saya dari belakang terus tarik baju daster saya. Karena kondisinya benar-benar gelap," ucapnya berlogat Aceh.

Rumah Tetangga Batal Jadi Tempat Berlindung

Sekitar 200 meter dari rumah, keduanya sempat hendak berlindung di rumah tetangga. Niat itu diurungkan setelah melihat air yang terus naik. Keberadaan pohon durian di sekitar lokasi membuat mereka semakin khawatir.

"Kata Ibu saya pohon durian itu mau tumbang, jadi cari saja yang lebih aman. Akhirnya saya cari tempat yang lebih aman," katanya.

Erna dan ibunya terus bergerak meninggalkan rumah, menaiki bukit, mencari tempat lebih tinggi. Sekitar 40 menit dibutuhkan untuk menemukan lokasi yang membuat mereka aman. Malam itu, perempuan dengan satu kaki itu menanggung keselamatan dua nyawa.

Trauma yang Belum Pergi dan Bekal Siaga Baru

Mereka mengungsi selama tiga bulan karena rumahnya hancur. Tidur dalam gelap dan tanpa rasa aman. Kini Erna kembali tinggal di rumah yang sama dan memperbaikinya dengan keterbatasan biaya yang dimiliki.

"Kalau lihat cuaca seperti ini hujan kembali turun terus-menerus, saya masih trauma. Cuma kita serahkan saja kepada Allah," katanya.

Bukan hanya hujan deras yang membuatnya gelisah. Angin kencang pun bisa membangkitkan kembali ingatannya pada bencana besar tahun lalu.

Lewat Satgas Digdaya, Erna kini lebih bersiaga. Ia sudah menyiapkan tas siaga bencana dan memahami langkah evakuasi. Keterampilan mendirikan tenda darurat menjadi bekal tambahan jika bencana kembali datang.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index